Selasa, 30 April 2013

Cerpen BaDai 'Biarkan Aku Menggantikannya'



Dia Gloria Chindai Lagio gadis berumur 22tahun. Ia sering dipanggil ‘Cindai’ oleh teman temannya baik di kampus atau dirumah. Gak lama lagi ia akan menikah dengan cowo yang udah pacaran bersamanya selama 6tahun. Ia kenal dengan pacarnya waktu SMA dulu. Dia Gilang, cowok yang menurut cindai ganteng, baik, romantis dan setia. Tapi, tak tau kenapa orangtua dari cindai tidak menyetujui pernikahannya dengan gilang. 

-Introduce End-

“Cindai!!” panggil seseorang di belakangnya
Cindai menoleh “Bagas? kenapa gas?” Tanya cindai
“Gapapa.. udah jam makan siang nih. Makan yuk” ajak bagas
“Yaudah yuk..” balas cindai sambil menaruh buku buku yang ia bawa.

Selama perjalanan, bagas dan cindai ngobrolin banyak hal.

“Ohiya ndai, gimana acara pernikahan lo sama gilang? Udah berapa persen?” Tanya bagas
“Hmm sekitar 50% lah.” Jawab cindai lesu
“Loh kok lesu gitu sih? Senyum lah.” Ucap bagas memperagakan senyum yang membuat cindai tertawa
“Hahahah bagas bagas lo emang gak pernah berubah.” Ucap cindai
“hehe iyadong tapi gantengnya berubah kann? Makin ganteng gitu.” Balas bagas pede
“Yeeee terserah lo deh. Udah yuk cepet gue laper” ucap cindai mempercepat langkahnya
Bagas mengikuti cindai dari belakang
---
                Bagas Rahman Dwi Saputra adalah sahabat cindai dari SMA dulu. Dia biasa dipanggil bagas . dia adalah satu satunya orang yang mendukung cindai untuk menikah dengan gilang. Ia menemani cindai setiap saat. Karena gilang begitu sibuk dengan kantornya, jadi gilang jarang menemani cindai untuk mencari keperluan pernikahan. Untung ada bagas yang setia menemani cindai mencari semuanya.

-Introduce End-

Hari ini hari sabtu, Cindai berencana menemui Gilang dikantornya.
Cindai memarkirkan mobilnya di parkiran kantor gilang dan segera masuk menerobos lorong lorong dalam kantor yang besar itu hingga akhirnya dia sampai di sebuah ruangan yang cukup besar.

*KLEK*

Cindai membuka pintu ruangan itu.
“Gilang, kamu didalam?” Tanya cindai di ambang pintu
“Iya sayang, masuk” ucap gilang dari dalam
“Ok..” kata cindai sambil menuju meja kerja gilang
“Kamu udah makan?” Tanya cindai lalu duduk di bangku
“Belum nih. Masih banyak banget kerjaan.” Balas gilang yang masih terpaku oleh ‘Laptop’nya
“Aku beliin makanan ya?” Tanya cindai
“Enggausah sayang. Aku belum laper kok” balas gilang yang lagi lagi tidak menoleh sedikitpun ke arah cindai
“Bisa gak sih kalo ada aku tuh kamu tinggalin dulu kerjaan kamu?” Tanya cindai sambil menunjukkan mimik muka cemberut
“Gakbisa sayang. Ini aku lagi bener bener sibuk. Hmm.. nanti malem ada acara gak?” Tanya gilang yang menghentikan sejenak ketik mengetiknya di laptop
Mendengar kata ‘nanti malem ada acara gak?’ ekspresi cindai yang tadinya cemberut berubah menjadi sumringah.
“Engga ada kok, kenapa?” Tanya cindai semangat
“gapapa. Jalan yuk. Tunggu aku dicafe biasa ya jam 7.” Ucap gilang
“Beneran?” Tanya cindai mendekati gilang
“Iya sayang” balas gilang
“makasih sayang.” Ucap cindai lalu mengecup pipi kiri gilang
“Yaudah kamu gakmau siap siap nih? Udah jam 3loh. Biasanya kan kamu ke salon atau pilih baju gabisa bentar.” Ledek gilang
“yeee yaudah aku pulang dulu ya sayang. Bye sampe ketemu nanti malam. Love you” ucap cindai lalu keluar dari ruangan gilang
“Love you too sayang” balas gilang
---
Cindai berjalan menuju mobilnya dengan senyum senyum.

“Ohiya kalo ke mall sendiri kan bête. Telpon bagas ah” ucap cindai

Via telepon

Cindai : Halo gas.
Bagas : Halo ndai
Cindai : Ada acara gak? Temenin gue yuk
Bagas : Ngga ada nih. Kemana ?
Cindai : Biasa.. ayoo gue tunggu di café biasa ya
Bagas sudah tau dengan kata ‘Biasa’ yang keluar dari mulut cindai
Bagas : Oke gue otw. Sampai ketemu nanti
Cindai : thanks ya gas.

Tuut…tuut…
Bagas telah menutup teleponnya.
---
Cindai telah sampai duluan sebelum bagas.
Tak lama cindai sampai, bagaspun sampai di café yang menjadi tempat perjanjian mereka.

“Hei ndai.” Sapa bagas
“heii.. duduk” balas cindai
“Ada apa nih? Mau cari sekarang? Katanya lo mau ketemu gilang dulu?” Tanya bagas
“Hmm.. bukan masalah pernikahan kok. Gue mau ke salon dan nyari baju buat ketemu gilang malam ini. Dia kan jarang tuh ngajak gue ngedate jadi gue mau dandan perfect malam ini. Mau kan?” Tanya cindai

Tak tau kenapa bagas suka cemburu melihat cindai dengan gilang. Entah dari kapan rasa itu mulai muncul. Tapi, ia sadar bahwa cinta cindai hanya untuk gilang.

“Gas, kok bengong? Gakmau ya?” Tanya cindai lesu
“Engga kokk gue mau banget. Apa sih yang engga buat sahabat gue yang satu ini.” Ucap bagas
“Hehe makasih ya gas. Lo sahabat gue yang palingggg gue sayang” balas cindai
“Iya ndai, sahabat..” kata bagas dalam hati
“yaudah yuk cepet keburu sore deh.” Ajak bagas
“Yukk…” balas cindai
---
Bagas dan Cindai sudah menghabiskan bejam jam di dalam mall itu dan sekarang jam tangan cindai menunjukkan pukul 18:30.
“Gas, gue pulang dulu ya.” Ucap cindai
“gak gue anter?” balas bagas
“Enggausah gue bawa mobil kok.” Ucap cindai
“Oh yaudah. Ati ati yaa. Sukses buat ngedatenya malam ini” teriak bagas
Cindai hanya mengangkat ibu jarinya

---
Cindai merasa senang tak terkira, ia bernyanyi nyanyi girang saat menyetir mobil.
“I’m Coming Gilaaaaaangg.” Teriak cindai seperti orang gila-_-

Cindai telah memarkirkan mobil di garasi rumahnya dan segera masuk untuk menyiapkan penampilannya agar terlihat perfect saat menemui gilang.

Sekarang penampilannya sudah perfect. Cindai memakai gaun biru setengah lutut rambut diponytail dan memakai asesoris yang tidak begitu banyak supaya terlihat natural.

Cindai memasuki mobilnya dan segera meluncur menuju café yang akan menjadi tempat untuk datingnya bersama gilang.
---
Cindai telah sampai di café dan segera masuk ke dalamnya. Jam tangannya telah menunjukkan pukul 18:56.
“Duh kok gilang belum datang ya?” ucap cindai khawatir
“Oh iya ini masih jam 7 kurang. Kan janjian jam 7.”

Detik bergulir menjadi menit dan menit telah bergulir menjadi jam. Jam tangan cindai telah menunjukkan pukul 20:00 dan sosok ‘Gilang’ yang cindai tunggu tunggu belum datang juga.
“Gilang, kamu kemana sih?” ucapnya khawatir

Seseorang menutup mata cindai dengan kedua tangannya.
“Gilang biasa deh ah.” Ucap cindai melepas tangan orang itu dari kedua matanya dan menoleh
“Taraaa…..” ucap orang itu
“Bagas? gue kira lo gilang.” Ujar cindai bête
“hehe… gilang kemana ? kok belom dateng?” Tanya bagas lalu duduk di bangku yang tersedia
“Gatau nih gas. Gue udah nunggu 1jam loh disini.” Balas cindai lesu
“Gausah bête gitu ah, kan ada gue disini.” Ucap bagas sambil tersenyum
“makasih ya gas. Lo kok bisa disini sih?” Tanya cindai
“Ok sama sama. Gue lagi lewat aja kok, gak sengaja ngeliat lo sendiri gak tega mending gue samperin” balas bagas
“Oh yaudah yuk cabut. Bête disini” ajak cindai
“Yukk.. eh tapi gue gak bawa mobil” ucap bagas
“Gue bawa kok. Tapi gue lagi males nyetir, lo ya yang nyetir hehe. Nih kuncinya” kata cindai sambil memberi kunci mobilnya kepada bagas
“Siap nyonyaa.” Ledek bagas
“Ih apaan sih lo.” Balas cindai malu
---
Bagas dan cindai telah di dalam mobil.
“Gas, berenti disana yuk.” Ucap cindai menunjuk sebuah taman bunga yang bagus dengan danau di tengahnya
“Yukk...” balas bagas
---
Cindai keluar mobil dengan semangat dan meninggalkan bagas di dalam mobil, ia memang menyukai bunga dan air. Karena menurutnya bunga dan air itu identik dengan kesunyian dan ketentraman. Dan sekarang ia sedang berada di taman bunga yang ada danaunya, semakin bersemangat ia menuju taman itu.

“Ndai tunggu.” Teriak bagas
“Cepet gas. bagus pemandangannya” ucap cindai sambil terus berlari menuju danau yang ada di dalam taman itu.
“Cindai belum berubah, dia masih suka danau dan taman bunga.” Ucap bagas seperti mengingat masa masa SMA nya bersama cindai
---
“Dorrrr…” bagas mengagetkan cindai
“Bagas apa apaan sih. Jail!” ujar cindai cemberut
“hehe. Mau eskrim gak?” Tanya bagas
“mau mauu…” jawab cindai semangat
“Bentar ya.” Ucap bagas lalu meninggalkan cindai di depan danau
---
Bagas telah membeli 2 es krim rasa strawberry kesukaan cindai dan rasa coklat kesukaannya. Tiba tiba ia melihat seseorang yang ia kenal sedang menggandeng cewek.

“Gilang?” ucap bagas kaget.
“Gilang dia ngapain sama cewek? Gandengan lagi. Wah gak bener nih!” ucap bagas lalu menghampiri gilang

“Gilang!” panggil bagas
Gilang dan cewek yang ia gandeng menoleh ke arah bagas.
“Ba.. bagas?” ucap gilang kaget
“Lang, ini siapa?” taya bagas baik baik
“Hmm.. dia.. dia.. dia...” balas gilang gugup
“Lo siapa? Gue pacarnya gilang” ucap cewek tersebut. Sebut saja namanya Angel
“Lo pacarnya dia? Asal lo tau dia udah punya pacar dan sebentar lagi dia bakal nikah.” Bentak bagas pada angel
“bener apa kata dia?” Tanya angel kepada gilang.
“emmm.. ehh gue bisa jelasin semuanya!” ucap gilang
“Jadi, lo gak dateng ke acara dating lo sama cindai Cuma gara gara cewek ini? Lo udah 6tahun pacaran lang. sebentar lagi lo akan nikah sama Cindai, sahabat gue! Dan segampang ini lo ngeduain dia? Gue udah percayain sahabat gue sama lo, tapi lo nya malah giniin dia. Cindai udah dandan seperfect mungkin buat ketemu sama lo. balesan lo apa ?” bentak bagas pada gilang
“oke gue tau gue salah. Gue ngeduain dia karena emang gue udah ga ada rasa apa apa sama dia.” Balas gilang
“Kalo lo udah ga ada rasa apa apa sama cindai harusnya lo bisa bilang ke dia! Jadi dia gak berharap sejauh ini sama lo.” Ucap bagas
“Iya gue sebenernya udah mau  bilang. Tapi, gak sekarang” balas gilang
“Kapan lang ? kapann?” Tanya bagas yang emosinya sudah mulai terpancing
“Udah udah. Gilang, aku minta putus! Sekarang urusin kelanjutan pernikahan kamu sama pacar kamu. Aku gapapa” ucap angel
“Gak, aku maunya sama kamu. Pernikahan gue sama cindai batal!” ucap gilang
“Segampang itu ya lo bilang batal?” Ujar bagas
“Maaf gas.” Balas gilang lirih

*BRUG*

Sebuah tonjokan tangan bagas telah mendarat di perut gilang.
“Itu yang pantes buat cowok kaya lo! Gue akan bilang cindai supaya gak berhubungan sama lo lagi.” Kata bagas sambil berlalu dari gilang dan angel.

---
Bagas berlari menuju cindai sambil menggenggam 2 eskrim yang telah ia beli tadi sambil menahan amarahnya.

“Cindai…” panggil bagas
Cindai menoleh “Bagas.. mana es krimnya?” Tanya cindai saat bagas telah berada di depannya
“Nih lo yang strawberry” ucap bagas sambil memberi es krimnya dan tersenyum manis
“Makasih ya gas. Lo tau aja kalo gue masih suka strawberry.” Balas cindai
“Oh iya donggg.. eh duduk situ yuk” ajak bagas sambil menunjuk sebuah bangku yang terletak tak jauh dari mereka
“Yuk.” Balas cindai
---
Mereka tengah terduduk sambil memakan es krim dan melihat pemandangan danau yang sangat indah.
“Ndai..” panggil bagas pelan
“Ya gas?”
“Gue mau ngomong sesuatu.” Kata bagas serius
“Ngomong apa sii? Serius amat. Jadi ngeri gue hehe” kata cindai bercanda
“hehe.. ini tentang Gilang” ucap bagas
“Gilang?” Tanya cindai
“iya.. tadi.. hmm.. tadi, gue liat dia…” ucapan bagas menggantung
“Duh gue gak tega bilang ini ke cindai. Gue takut dia gak bisa terima kelakuan gilang dibelakang dia.” Batin bagas
“Gas? Lanjutin dong. Gilang kenapa?” Tanya cindai khawatir
“Gilang….Gilangg.. ngeduain lo ndai” ucap bagas sambil menunduk
“Apa? Gak gas, gak mungkin. Dia cinta sama gue.” Balas cindai
“Lo gak percaya sama gue?” Tanya bagas sambil menatap mata cindai yang sudah mengeluarkan air mata
“Gak gas gue gak percaya sama lo!” balas cindai lalu pergi dan meninggalkan es krimnya di bangku taman
“Ndai sorry gue harus bilang ini walau bikin lo sakit.” Ucap bagas lirih
---
Cindai telah sampai dirumah dan memasukkan mobilnya ke garasi dan segera menuju kamar.
Cindai terduduk di samping tempat tidurnya dan menangis.
“Gas, lo bohong kann? Yakan gass ? Gilang gak selingkuh kan?” ucap cindai pada foto bagas yang terletak dimeja rias kamarnya
“Jawab gas jawab!” bentak cindai lagi pada foto bagas
Cindai tertunduk lemas dalam kamarnya.
“Besok gue harus ketemu gilang.” Ujar cindai lalu terlelap di kasurnya

---
Jam dinding menunjukkan pukul 08:50
“Hoammm…” cindai baru bangun dan segera melihat ponselnya.
Tak ada 1 sms pun dari gilang.

Cindai segera meluncur ke kamar mandi dan berencana ke kantor gilang.
Jam menunjukkan pukul 09:20, cindai memang lama soal menjaga kecantikan tubuhnya seperti mandi, dandan dan lain lain.

Cindai telah selesai berdandan dan mempersiapkan penampilannya, sekarang ia siap menuju kantor gilang. Ia menaiki mobilnya, dan nyanyi nyanyi di dalamnya.

Cindai telah sampai di kantor gilang dan segera menuju resepsionis
“Pagi mba, ada yang bisa saya bantu?” Tanya resepsionis itu
“Oh iya. Pak gilangnya diruangan?” Tanya cindai
“Sebentar ya saya konfirmasi dulu.” Ucap resepsionis itu
“Ah gausah saya langsung kesana saja.” Ucap cindai lalu meninggalkan meja resepsionis
Resepsionis menutup teleponnya dengan gilang,
“Mba, pak gilangnya sedang ada meeting dengan client. Silakan tunggu di ruang tunggu sebentar.” Teriak resepsionis itu
Cindai tidak menghiraukan dan terus berjalan menuju ruangan gilang.
---
Cindai telah berada di depan ruangan gilang. Ia bimbang antara mau masuk atau kembali ke bawah. Perasaannya menyuruhnya untuk masuk. Tapi pikirannya menyuruhnya untuk kembali ke bawah. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk.

*KLEK* Pintu ruangan gilang terbuka.

“Siapa itu?” ucap Gilang dari dalam
“Ini aku cindai.” Balas cindai

Cindai masuk ke dalam ruangan itu dan melihat gilang sedang makan berdua dengan perempuan. Ya, angel.

“Gilang?” Tanya cindai bingung
“Cindai? Kamu ngapain disini?” Tanya gilang
“Dia siapa?” balas cindai
“Gue pacarnya. Lo cindai?” ucap angel ikut campur
“Iya gue cindai. Dan gue tunangannya.”balas cindai
“Lang, bilangin deh ke dia kalo kamu lebih milih aku.” Kata angel
“Oke. Gini ndai, sekarang aku minta putus.” Kata angel kepada cindai
“Hah? Segampang itu bilang putus ? 5hari lagi pernikahan kita lang.” Ucap cindai yang matanya mulai berkaca kaca
“Tapi, ndai maafin aku. Aku gak bermaksud begini. Tapi perasaan aku udah ga ada buat kamu.” Balas gilang
“Jadi, selama ini aku cari perlengkapan buat pernikahan sendiri, susah susah sendiri, ini balasan kamu? Hah!” bentak cindai
“tapi ini diluar kekuasaan aku ndai. Mungkin tuhan gak ngizinin kita bersatu.” Bentak gilang kepada cindai
“Ok kalo ini mau kamu. Aku balikin cincin tunangan kita. Nih!” ucap cindai lalu melepas cincin dijari manisnya dan memberinya ke gilang.
“Sekarang udah jelas kan? Gue yang dia pilih.” Ucap angel
“Iya selamat ya buat kalian.” Balas cindai lalu pergi keluar ruangan itu
---
Cindai berlari menuju mobilnya dengan airmata yang sudah tidak tertahankan.
Pikirannya kini kacau balau. Dia menyetir mobilnya tak tentu arah. Entah mengapa tiba tiba arah jalan mobilnya menuju rumah Bagas. ya bagas sahabatnya.
---
Cindai memarkir mobilnya di depan rumah bagas dan segera memasuki gerbang sambil menangis.

Tok tok….

“Se..lam..mat.. pa..paa..gi.” ucap cindai sesenggukan
Bagas yang baru bangun langsung menuruni tangga dan membukakan pintu. Bagas sungguh membenci pemandangan itu. Perempuan yang sangat ia sayang menangis dihadapannya
“Cindai? Lo kenapa? Masuk masuk” ujar bagas
Cindai dan Bagas terduduk di ruang tamu rumah bagas

“Lo kenapa? Cerita sama gue.” Tanya bagas
“Gilang gas gilang.” Ucap cindai memeluk bagas
“Gilang kenapa?” Tanya bagas yang berpura pura tidak tau
“Gilang beneran ngeduain gue.” Balas cindai
“Hmm… gue kan udah bilang. Dia itu udah ngeduain lo ndai. Tapi, lo nya gak percaya malah lari gitu aja ninggalin gue tadi malem.” Kata bagas
Cindai melepas pelukannya. “Iya maaf gue udah gak percaya sama lo semalem. Sekarang gue percaya kok sama lo. Gilang jahat!” Ucap cindai
“Engga ndai. Gilang gak jahat. Dia Cuma butuh suasana baru. Mungkin dia bosen sama lo. Tapi, gue yakin dia bakal nyesel udah duain orang seperfect lo ndai.” Ucap bagas tersenyum manis
“Tapi, pernikahan gue tinggal 4hari gas. Apa itu semua harus gue batalin gitu aja?” ucap cindai
“Jangan ndai. Jangan dibatalin!” cegah bagas
“Kenapa gas? Gue belum dapetin orang yang tepat buat gantiin gilang.” Balas cindai lirih
“Kenapa gakbisa nemuin? Gue disini ndai.” Ucap bagas terang terangan
“Hah? Apa gas yang lo bilang?” Tanya cindai bingung
“Iya gue adalah orang yang tepat buat gantiin gilang.”kata bagas serius
“Lo? Bagas Rahman Dwi Saputra? Hahahahha…. Bercanda lo!” ucap cindai yang tertawa sejadi jadinya disela tangisnya
“Ini emang keliatan lucu ndai. Tapi gue serius.” Ucap bagas lalu memegang tangan cindai
Cindai kini menatapnya dalam
“Ndai, Biarkan aku menggantikannya.” Kata bagas
“tapi, gas..”
“belum ada yang bisa hapus gilang dari sini.” lanjut cindai sambil menunjuk bagian jantungnya
“Iya Gloria Cindai Lagio. Aku tau, tapi aku yakin semakin lama kita melalui semuanya bersama. Rasa sayang kamu ke aku akan muncul, begitu juga rasa sayang kamu ke gilang akan sedikit sedikit memudar. Memang waktunya gak sebentar. Tapi aku pasti akan nunggu kamu sampai kamu benar benar lupa dengan gilang dan tulus mencintaiku, selamanya….” Ucap bagas 
Cindai tidak bisa menahan airmata keharuannya. Ia memeluk bagas dan menangis sejadi jadinya di pelukan bagas.
“Iya bagas akan aku coba.” Ucap cindai mantap
Bagas hanya tersenyum mendengar ucapan Seseorang yang kini ia sangat cinta.

-End-
Sorry kalo jelek. Maklum ini aku coba selesaiin dalam satu hari jadi maklumin ya :)

Follow My twitter kalo ada saran & kritik mention langsung aja :) makasih 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar